Umur memang bukan
menjadi alasan para atlet untuk bersinar. Meskipun di usia yang sudah tua akan
menurunkan kemampuan fisik dan stamina, tetapi para atlit sepak bola ini masih
dapat bersinar dan memberikan yang terbaik untuk klubnya. Berikut pemain-pemain
yang sudah berumur tua tetapi berprestasi.
1. Barcelona Era Pep Guardiola (2008-2012)
Disebut - sebut sebagai Tim Terbaik
sepanjang sejarah,bukan hanya karena memenangkan 6 gelar dalam setahun ataupun
2 Liga Champion,3 Laliga ,1 Copa Delrey,3 Super Copa Spanyol,1 Piala Dunia
Antar Klub,Tetapi karena filosofi bermain yg selalu menyerang, Penguasaan Bola
hingga 85%,Mayoritas pemain dari tim Yunior (Lamasia),Messi,Xavi dan Iniesta
adalah peraih 3 besar pemain terbaik versi FIFA (FIFA Ballon D'Or).
Era keemasan Barcelona dimulai sejak
kehadiran Frank Rijkaard dengan membeli pemain macam Ronaldinho,Eto'o,Daniel
Alves,hingga Thiery Henry.
hingga th 2008 mengangkat Pep dari
Pelatih Junior.
Hingga Kin Pep Guardiola
mempersembahkan 10 Piala Bergengsi bagi Cules dalam 3 th kepelatihannya.
2.Milan Era Sacchi (1987-1991)
Setelah serentetan masalah menerpa
Milan, dan membuat klub kehilangan suksesnya, AC Milan dibeli oleh enterpreneur
Italia, Silvio Berlusconi. Berlusconi adalah sinar harapan Milan kala itu. Dia
datang pada 1986. Berlusconi memboyong pelatih baru untuk Milan, Arrigo Sacchi,
serta tiga orang pemain Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud
Gullit, untuk mengembalikan tim pada kejayaan. Ia juga membeli pemain lainnya,
seperti Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli.
Dibawah kepelatihan Sacchi, Milan
bermain berbeda dengan tim-tim Italia lain, dengan mengambil gaya bermain
Brazil saat memenangkan Piala Dunia 1970, dan Ajax di era total football Rinus
Michels. Dengan meninggalkan pola man-marking, menggantinya dengan permainan
yang intensif, menyerang, dan pressing ketat, dia merevolusi wajah sepakbola
Italia.
Barisan deffence Milan saat diisi oleh
kuartet Italian best, di komandoi oleh Franco Baresi dan menampilkan sosok
Paolo Maldini muda, dan trio Belanda: van Basten, Ruud Gullit, dan Frank
Rijkaard yang menyokong penyerangan. Tim ini memenangkan Club World Cup dua
kali, dan di Mei 1990, Milan mengalahkan Benfica untuk menjaga throphy tetap
bermukim di San Siro, dan menjadi tim terakhir hingga saat ini yang dapat
memenangkan Piala Champions 2 kali berturut-turut.
3.Real Madrid Di Stefano (1953-1954)
Santiago Bernabéu Yeste terpilih
menjadi presiden Real Madrid tahun 1943. Di bawah kepemimpinannya, Real Madrid
kemudian berhasil membangun Stadion Santiago Bernabéu dan tempat berlatih klub
di Ciudad Deportiva yang sebelumnya sempat rusak akibat Perang Saudara Spanyol.
Pada 1953, Bernabeu kemudian mulai membangun tim dengan cara mendatangkan
pemain-pemain asing, salah satunya adalah Alfredo Di Stéfano.
Pada tahun 1955, berdasar dari ide yang
diusulkan oleh jurnalis olahraga Perancis dan editor dari L'Equipe, Gabriel
Hanot, Bernabéu, Bedrignan, dan Gusztáv Sebes menciptakan sebuah turnamen sepak
bola percobaan dengan mengundang klub-klub terbaik dari seluruh daratan Eropa.
Turnamen ini kemudian menjadi dasar dari Liga Champions UEFA yang berlangsung
saat ini. Di bawah bimbingan Bernabéu, Real Madrid memantapkan dirinya sebagai
kekuatan utama dalam sepak bola, baik di Spanyol maupun di Eropa. Real Madrid
memenangkan Piala Eropa lima kali berturut-turut antara tahun 1956 dan 1960, di
antaranya kemenangan 7–3 atas klub Jerman, Eintracht Frankfurt pada tahun 1960.
Setelah kelima berturut-turut sukses, Real secara permanen diberikan piala asli
turnamen dan mendapatkan hak untuk memakai lencana kehormatan UEFA.Real Madrid
kemudian memenangkan Piala Eropa untuk keenam kalinya pada tahun 1966 setelah
mengalahkan FK Partizan 2–1 pada pertandingan final dengan komposisi tim yang
seluruhnya terdiri dari pemain berkebangsaan Spanyol, sekaligus menjadi pertama
kalinya dalam sejarah pertandingan Eropa. Tim ini kemudian dikenal lewat
julukan "Ye-ye". Nama "Ye-ye" berasal dari "Yeah, yeah,
yeah" chorus dalam lagu The Beatles berjudul "She Loves You"
setelah empat anggota tim berpose untuk harian Diario Marca mengenakan wig khas
The Beatles. Generasi "Ye-ye" juga berhasil menjadi juara kedua Piala
Champions pada tahun 1962 dan 1964.
Pada 1970-an, Real Madrid memenangi
kejuaraan liga sebanyak 5 kali disertai 3 kali juara Piala Spanyol. Madrid
kemudian bermain pada final Piala Winners UEFA pertamanya pada tahun 1971 dan
kalah dengan skor 1–2 dari klub Inggris, Chelsea. Pada tanggal 2 Juli 1978,
presiden klub Santiago Bernabéu meninggal ketika Piala Dunia FIFA sedang
berlangsung di Argentina. FIFA kemudian menetapkan tiga hari berkabung untuk
menghormati dirinya selama turnamen berlangsung. Tahun berikutnya, klub
mengadakan Kejuaraan Trofi Santiago Bernabéu sebagai bentuk penghormatan pada
mantan presidennya tersebut.
4.Ajax Era Johan Cruyff (1965-1973)
Ajax
salah satu klub paling sukses di dunia, menurut IFFHS .Ajax adalah klub
paling sukses ketujuh Eropa abad ke-20 Klub ini salah satu dari lima tim yang
telah mendapatkan hak untuk menjaga Piala Eropa dan mengenakan lencana beberapa
pemenang, mereka menang berturut-turut di 1971-1973. Pada tahun 1972, mereka
menyelesaikan treble Eropa dengan memenangkan Belanda Eredivisie , Piala KNVB ,
dan Piala Eropa, untuk tanggal, mereka adalah satu-satunya tim untuk menjaga
Piala Eropa dan mencapai treble Eropa.Mereka juga salah satu dari tiga tim
untuk
memenangkan treble dan Piala Intercontinental pada tahun musim / kalender yang
sama;Hal ini dicapai pada musim 1971-72. Ajax, Juventus dan Bayern Munich
adalah tiga klub untuk telah memenangkan semua tiga besar UEFA kompetisi klub.
Bersama Cruyff mereka klub di segani
Dieranya ,Selain sederet piala,Mereka juga memainkan sepakbola Menyerang yg
disebut Total Football.
5.Muenchen Era Franz Beckenbauer (1970-1977)
Udo Lattek mengambil alih pada tahun
1970. Setelah memenangkan piala di musim pertamanya, Lattek pimpin Bayern
menjadi juara ketiga Jerman. Pertandingan penentu dalam musim 1971-72 melawan
Schalke 04 adalah pertandingan pertama di baru Stadion Olimpiade , dan juga
pertandingan disiarkan live pertama dalam sejarah Bundesliga. Bayern
mengalahkan Schalke 5-1 dan dengan demikian merebut gelar, juga pengaturan
beberapa catatan, termasuk poin diperoleh dan gol. Bayern juga memenangi dua
kejuaraan berikutnya, tetapi puncaknya adalah kemenangan mereka di final Piala
Eropa melawan Atletico Madrid , Bayern menang 4-0 yang setelah replay. Selama
tahun-tahun berikutnya tim tidak berhasil dalam negeri, tetapi mempertahankan
gelar Eropa mereka dengan mengalahkan Leeds United di akhir ketika Roth dan
kemenangan Müller dijamin dengan tujuan akhir. Setahun kemudian di Glasgow , AS
Saint-Étienne yang dikalahkan oleh Roth
dan Bayern menjadi klub ketiga untuk memenangkan trofi dalam tiga tahun
berturut-turut. Trofi akhir dimenangkan oleh Bayern di era ini adalah Piala
Intercontinental , di mana mereka mengalahkan klub Brasil Cruzeiro
6.liverpool era Bob Paisley (1974-1983)
Kejayaan Liverpool bersama Bill Shankly
dilanjutkan Bob Paisley yang pada saat itu berusia 55 tahun. Dia menjabat
sebagai manajer Liverpool FC dari tahun 1974 sampai 1983 dan hanya pada awal
tahun Bob Paisley tidak dapat memberikan gelar untuk Liverpool FC. Selama 9
tahun Bob Paisley menjabat sebagai manajer Liverpool FC, beliau memberikan
total 21 tropi, termasuk 3 Piala Champion, 1 Piala UEFA, 6 juara Liga Inggris
dan 3 Piala Liga secara berturut-turut. Dengan semua gelar itu tidak salah bila
Bob Paisley menjadi manajer tersukses yang pernah menangani klub Inggris. Tidak
hanya sukses memberikan gelar untuk Liverpool FC, tetapi Bob Paisley juga
sukses dalam melakukan regenerasi di tubuh Liverpool FC dengan tampilnya para
bintang muda seperti: Graeme Souness, Alan Hansen, Kenny Dalglish dan Ian Rush.
Walaupun Bob Paisley akan mewariskan sebuah skuat muda yang sangat hebat dan
berbakat, tetapi dengan semua torehan gelar itu akan menjadi sangat berat buat
siapapun penerusnya.
Sebagai penerus Bob Paisley yang
pensiun di tahun 1983, Joe Fagan yang pada saat itu berusia 62 tahun, berhasil
mempersembahkan treble buat Liverpool yaitu juara Liga, juara Piala Liga dan
juara Piala Champion. Raihan ini menjadikan Liverpool FC sebagai klub sepakbola
Inggris yang berhasil meraih 3 gelar juara sekaligus dalam 1 musim kompetisi.
Sayangnya, catatan keemasan itu sedikit ternoda oleh insiden di stadion Heysel.
Insiden yang terjadi sebelum pertandingan final Piala Champion antara Liverpool
FC dan Juventus ini menewaskan 39 orang, sebagian besar adalah pendukung
Juventus. Insiden ini mengakibatkan pelarangan bagi semua klub sepakbola
Inggris untuk berkompetisi di Eropa selama 5 tahun. Dan Liverpool FC dilarang
mengikuti semua kompetisi Eropa selama 10 tahun yang akhirnya dikurangi menjadi
6 tahun. Selain itu, 14 Liverpudlian didakwa bersalah atas peristiwa yang
dikenal dengan Tragedi Heysel. Setelah peristiwa mengerikan itu, Joe Fagan
memutuskan untuk pensiun dan memberikan tongkat manajerial selanjutnya kepada
Kenny Dalglish yang ditunjuk sebagai player-manager. Joe Fagan menyerahkan
tugas manajerial Liverpool FC kepada Kenny Dalglish yang pada saat itu sudah
menjadi pemain hebat tetapi masih harus membuktikan kapabilitas sebagai seorang
manajer.
Pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish,
Liverpool FC dibawa menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali dan juara Piala
FA sebanyak 2 kali, termasuk gelar ganda juara Liga Inggris dan juara Piala FA
pada musim kompetisi 1985/86. Bila tidak terkena sangsi dari UEFA, bisa
dipastikan Liverpool FC menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion
pada saat itu. Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish
kembali dibayangi kejadian mengerikan lainnya yaitu Tragedi Hillsborough. Pada
pertandingan semi-final Piala FA melawan Nottingham Forrest tanggal 15 April
1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang
mengakibatkan Liverpudlian yang berada di tribun terjepit pagar pembatas
stadion. Hal ini mengakibatkan 94 Liverpudlian meninggal di tempat kejadian, 1
Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian di rumah sakit dan 1 Liverpudlian
lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun. Akibat Tragedi
Hillsborough ini pemerintah Inggris melakukan penelitian kembali mengenai
faktor keamanan stadion sepakbola di negaranya. Dikenal dengan sebutan Taylor
Report, menyebutkan bahwa penyebab dari Tragedi Hillsborough ini adalah faktor
penonton yang melebihi kapasitas stadion karena kurangnya antisipasi dari pihak
keamanan. Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang
mewajibkan setiap klub divisi I Inggris untuk meniadakan tribun berdiri.
Setelah menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan Heysel dan Hillsborough,
'King' Kenny Dalglish tidak pernah bisa lepas dari trauma yang menghinggapi
dirinya. Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1990 beliau mengumumkan pengunduran
dirinya sebagai manajer Liverpool FC. Pengumuman yang sangat mengejutkan dunia
sepakbola pada saat itu, karena Liverpool FC sedang bersaing ketat dengan
Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris. Alasan yang disebutkan oleh Kenny
Dalglish pada saat itu adalah tidak bisa lagi menghadapi tekanan dalam
menahkodai Liverpool FC. Selama beberapa minggu Liverpool FC ditangani oleh
pelatih tim utama Ronnie Moran sebelum akhirnya Liverpool FC menunjuk Graeme
Souness sebagai manajer berikutnya. 'King'
Kenny Dalglish kemudian dikenang
sebagai legenda terhebat Liverpool FC karena sangat sukses baik sebagai pemain
maupun manajer.
7.Inter Milan Era Hererra (1960-1968)
Setelah masa perang, Inter memenangi
gelar Seri A lagi pada tahun 1953 dan yang ketujuh di tahun 1954. Setelah
memenangi beberapa trofi ini, Inter memasuki masa keemasan mereka yang disebut
La Grande Inter. Selama masa keemasan mereka, dibawah asuhan Pelatih Helenio
Herrera, Inter memenangkan tiga trofi di tahun 1963, 1965, dan 1966. Pada waktu
ini, Inter juga terkenal dengan kemenangan Piala Eropa dua kali berturut-turut.
Di tahun 1963, Inter memenangkan trofi Piala Eropa mereka setelah mengalahkan
klub terkenal Real Madrid. Musim selanjutnya, bermain di kandang mereka
sendiri, Inter memenangkan trofi Piala Eropa untuk kedua kalinya setelah
mengalahkan klub dari Portugal, Benfica.
8.Juventus Era Trappatoni (1981-1993)
Era tangan dingin Trapattoni
benar-benar membuat Seri-A porak poranda di 1980-an. Juve sangat perkasa di era
tersebut, dengan gelar Seri-A empat kali di era tersebut. Setelah 6 pemainnya
ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982 dengan Paolo
Rossi sebagai salah satu pemain Juve kemudian terpilih menjadi Pemain Terbaik
Eropa pada 1982, sesaat setelah berlangsungnya Piala Dunia di tahun tersebut
ditambah dengan kedatangan bintang Prancis Michel Platini, Juventus kembali
difavoritkan di musim 1982-83. Namun Juventus yang juga disibukkan dengan
jadwal kejuaraan Eropa memulai kompetisi dengan lambat. Hal itu ditunjukkan
dengan menelan kekalahan dari Sampdoria di pertandingan pembuka musim serta
menang dengan tidak meyakinkan atas Fiorentina dan Torino. Sementara di Eropa,
mereka berhasil menyingkirkan Hvidovre (Denmark) dan Standard Liege (Belgia) di
penyisihan. Akan tetapi, Juventus kembali ke trek juara di musim dingin
bersamaan keberhasilan mereka menembus perempat final Liga Champions.
Selanjutnya, kemenangan atas Roma melalui 2 gol dari Platini dan Brio membuat
jarak keduanya berselisih 3 poin dengan Roma di posisi puncak. Namun, karena
konsentrasi Juve terpecah antara Serie A dan Liga Champions akhirnya tidak
berhasil mengejar AS Roma yang menjadi juara. Juventus seharusnya bisa
menumpahkan kekecewaannya di Liga saat mereka bertemu Hamburg di final Liga
Champions tapi hal itu tidak terjadi. Berada di posisi kedua di kompetisi
domestic dan Eropa, Juventus akhirnya berhasil merebut gelar penghibur saat
menjuarai Piala Italia dan Piala Interkontinental.
Musim panas 1983, Juve kehilangan dua
pilar inti mereka. Dino Zoff gantung sepatu di usia 41 tahun sedangkan Bettega
beralih ke Kanada untuk mengakhiri karirnya di sana. Juve lantas merekrut kiper
baru dari Avellino: Stefano Tacconi dan Beniamino Vinola dari klub yang sama.
Sementara Nico Penzo menjadi pendampong Rossi di lini depan. Juve pada saat itu
berkonsentrasi penuh di dua kompetisi, Liga dan Piala Winner. Hasilnya, melalui
penampilan yang konsisten sepanjang musim, Juve merengkuh gelar liga satu
minggu sebelum kompetisi usai. Dan gelar ini ditambah gelar lainnya di Piala
Winner saat mereka mengalahkan Porto 2-1 di Basel pada 16 Mei 1984. Dua gelar
ini sangat bersejarah dan merupakan prestasi bagi kapten klub Scirea dan
kawan-kawan.
Setelah era keemasan Rossi usai, Michel
Platini kemudian secara mengejutkan berhasil menjadi pemain terbaik Eropa tiga
kali berturut-turut; 1983, 1984 dan 1985, dimana sampai saat ini belum ada
pemain yang bisa menyamai dirinya. Juventus menjadi satu-satunya klub yang
mampu mengantarkan pemainnya menjadi pemain terbaik Eropa sebanyak empat tahun
berurutan.Platini juga menjadi bintang saat Juve berhasil menjadi juara Liga
Champions Eropa pada 1985 dengan sumbangan satu gol semata wayangnya.
Tragisnya, final melawan Liverpool FC dari Inggris tersebut yang berlangsung di
Stadion Heysel Belgia, harus dibayar mahal dengan kematian 39 tifoso Juventus
akibat terlibat kerusuhan dengan para hooligans dari Liverpool. Sebagai
hukuman, tim-tim Inggris dilarang mengikuti semua kejuaraan Eropa selama lima
tahun.Juventus kemudian merebut scudetto terakhir mereka di era 1980-an pada
musim 1985-86, yang juga menjadi tahun terakhir Trappatoni di Juventus.
Memasuki akhir 1980-an, Juve gagal menunjukkan performa terbaiknya, mereka
harus mengakui keunggulan Napoli dengan bintang Diego Maradona, dan kebangkitan
dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan.Pada 1990, Juve pindah kandang ke
Stadio delle Alpi, yang dibangun untuk persiapan Piala Dunia 1990.
9.Benfica era Eusebio (1960-1970)
Benfica adalah tim pertama untuk
memecahkan dominasi Real Madrid di awal
Piala Champions Eropa . Setelah memenangkan dua Piala Champion berturut-turut
melawan FC Barcelona (1961) dan Real Madrid (1962). Itu adalah kali terakhir
Benfica memenangkan kompetisi internasional.
Selama dekade ini, Benfica mencapai final Piala Champions Eropa tiga
kali, tetapi mereka gagal meraihnya, setelah kalah melawan Milan (1963),
Internazionale (1965), dan Manchester United (1968).
Pada tahun 1968, Benfica dianggap
sebagai tim terbaik Eropa oleh Perancis Sepakbola , meskipun kekalahannya di
Piala Champions. Banyak keberhasilan di tahun 1960-an dicapai berkat bintang
mereka Eusebio. Bahkan, tahun 1960-an adalah periode terbaik sejarah Benfica,
di mana klub memenangkan delapan
Kejuaraan (1960, '61, '63, '64, '65, '67, '68, dan '69), tiga Portugal
Piala (1961, '64, dan '69), dan dua Piala Champions Eropa (1961 dan '62).
10.Juventus Era Lippi (1994-2003)
Marcello Lippi mengambil alih posisi
manajer Juventus pada awal musim 1994-95. Ia lantas mengantarkan Juventus
memenangi Seri-A untuk pertama kalinya sejak pertengahan 1980-an di musim
1994-95. Pemain bintang yang ia asuh saat itu adalah Ciro Ferrara, Roberto
Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat bernama Alessandro Del Piero.
Lippi memimpin Juventus untuk memenangi Liga Champions Eropa pada musim itu
juga, dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melalui adu penalti, setelah skor
imbang 1-1 pada babak normal, dimana Fabrizio Ravanelli menyumbangkan satu gol
untuk Juve.
Sesaat setelah bangkit kembali, para
pemain Juventus yang biasa-biasa saja saat itu secara mengagumkan bisa
mengembangkan diri mereka menjadi pemain-pemain bintang. Mereka adalah Zinedine
Zidane, Filippo Inzaghi dan Edgar Davids. Juve kembali memenangi Seri-A musim
1996–97 dan 1997–98, termasuk juga Piala Super Eropa 1996dan Piala
Interkontinental 1996. Juventus juga mencapai final Liga Champions di musim
1997 dan 1998, tetapi mereka kalah oleh Borussia Dortmund (Jerman) dan Real
Madrid (Spanyol).
Setelah dua musim absen karena
dikontrak oleh Inter Milan (dan gagal), Marcello Lippi kembali ke Juventus di
awal 2001. Pria penyuka cerutu ini lantas membawa beberapa pemain biasa, yang
kembali ia berhasil sulap menjadi pemain hebat, di antaranya Gianluigi Buffon,
David Trézéguet, Pavel Nedvěd dan Lilian Thuram, dimana para pemain tersebut
membantu Juve kembali memenangi dua gelar Seri-A di musim 2001-02 dan 2002-03.
Juve juga berhasil maju kembali ke final Liga Champions, sayangnya mereka kalah
oleh sesama tim Italia lain, AC Milan. Tahun berikutnya, Lippi diangkat menjadi
manajer timnas Italia setelah bersaing ketat dengan Fabio Capello, dan
mengakhiri eranya sebagai pelatih terbaik Juventus di era 1990-an dan awal
2000-an










Tidak ada komentar:
Posting Komentar